matahari menyambutku untuk bangun memaksaku membuka mata. Korden-korden jendela kamarku sudah terbuka. Silaunya cahaya matahari yang menembus kaca jendela kamarku semakin memaksaku tak boleh tidur lagi. Dengan terpaksa aku bangun dan beranjak dari kasurku untuk siap-siap sarapan. Ya, memang hari ini adalah libur sekolah. Tapi walaupun libur, aku ingin punya kegiatan di luar sekolah. Ini dia nih aktifitasku. Yaitu menulis cerpen. Walaupun itu bukan hobiku yang sebenarnya, tapi aku adalah tipe orang yang suka berkhayal. Suka mengkhayalkan punya pacar ganteng lah, jadi orang kaya lah, jadi penyanyi lah, dan ya gitu lah hidupku. Tapi sebelum menulis cerpen di pagi hari ini aku ingin berolahraga sebentar. Aku cepat-cepat mengambil sepeda dan blllaaaassss, sepedakupun melaju sekencang-kencangnya menuju taman. “Hay Dea, ati ati dong loe kalo pakek sepeda. Cewek apa cowok sih loe” kata Dina berteriak dari belakangku. Ya, Dina itu adalah sahabatku dari SD sampai kuliah ini. “Sorry Din, gue gak sengaja” kataku sambil menggayuh sepedaku sekuat tenaga. Sesaat kemudian bbbrrrruuukkk. Sebuah sepeda menabrakku. “Ati-ati dong loe kalau jalan. Pakek mata jangan pakek dengkul” kataku marah-marah sambil merapikan bajuku dan melihat seluruh badanku mungkin aja ada yang luka. “Sorry sorry gue gak sengaja. Gue juga lagi buru-buru” kata Edo cowok ganteng, tinggi, manis yang telah menabrakku. “Loe nggak papa kan? Apanya yang luka?” tanyanya sambil membantuku bangun. “Nggak gue nggakpapa kok” sesaat aku melihat wajahnya. “Terpesonanya gue liat dia sampai gak kedip dan melongo. Ternyata cowok ganteng, tinggi, dan super manis yang telah menabrak gue. Oh my god. Mimpi apa gue tadi malem di tabrak cowok ganteng itu” batinku. “Eh, ya loe nggakpapa kan?” tanya Dina yang tiba-tiba nongol didepanku. “Gue nggakpapa Din” “Elo sih kan sudah gue bilangin kalo pakai sepeda cewek dikit dong. Lagian loe kayak cowok aja” kata Dina sambil marah-marah dan menuntun sepedaku ke pinggir jalan. “Sorry sorry gue yang salah bukan dia kok” kata Edo membelaku. “Oke makasih ya udah nolongin gue” kata ku sambil senyum senyum terpesona lihat tampangnya Edo. “Oke nggak masalah, gue duluan ya. Sorry tadi” kata Edo yang cepat cepat meninggalkanku dan Dina. “Woyy, loe ngapain liat dia sampai ilang gitu. Biasanya kalau ada yang nabrak loe, loe mesti minta ganti rugi kenapa ma Edo enggak? Wahh, loe naksir ya?” kata Dina sambil menggodaku. “Apaan sih loe Din, enggak kok” sambil senyum senyum sendiri dan mukaku yang merah. Dina pun bisa menebak itu. Tak lama kemudian kitapun melanjutkan sepedanya berdua.
—
Setibanya aku di rumah, aku merasa capek sekali. Tapi tak apalah walaupun tangan penuh luka aku senang bisa ketemu dia. Aku nggak nyangka Edo baik juga ramah. Aku memang nggak pernah ketemu dia, tapi aneh juga, dulu kan aku sama dia 1 SMP tapi nggak pernah kenal Edo tuh. Wah, teman yang aneh!. “Loe kenapa senyum senyum sendiri kayak gitu?” kata Bian yang tiba-tiba duduk disampingku. Bian adalah teman sekaligus sahabatku yang sekolah di Ausy karena dapet beasiswa dari pamannya, yang sekaligus kepala sekolahnya dulu di SMA. “emm, enggak. Loe dateng kapan?” “Kemarin, loe sih gak mau jemput gue di bandara. Gue kan jadi kesasar nih dateng Semarang.” “Loe juga aneh mentang-mentang dari Ausy, terus lupa sama tanah kelahirannya.” kataku sambil bercanda ria. Kangen juga sama si mata sipit itu. Panggilanku terhadap Bian, yang notabene adalah anak keturunan chinesse. “Eh, iya. Geu ajak jalan-jalan dong. Masak di Semarang cuma gini-gini doang.” “Kemana?” “Kemana aja” kata Bian sambil tersenyum liat Aku. “Oke, gue siap-siap dan mandi dulu ya, loe tunggu sini aja” “Oke, eiitss tapi jangan lama-lama ya cantik” puji Bian. “Ssiiippp” kataku sambil mengangkat jempol dan berjalan menuju kamar lalu ke kamar mandi. Tak lama kemudian. “TTTTTAAADDDDAA, gimana? Cantik nggak gue pakek jilbab kayak gini?” kataku sambil memamerkan baju yang di kado Bian untuukku. “Woooww, cantik dong, temen siapa dulu” puji Bian. “Oke sekarang kita kemana nih?” “Emm, gimana kalau keliling-keliling dulu dan cari inspirasi mau kemana” “Oke, silahkan tuan putri duluan aja” “Apa-apaan sih pakai tuan putri tuan putrian segala” kataku sambil masuk mobilnya Bian. “Biar romantis dong.” Kata Bian sambil menutup pintu mobil setelah aku masuk. “Hahahaha”
Setelah ½ jam berjalan Aku dan Bian akhirnya menemukan tempat yang pas buat kita mengenag masa-masa kita masih kecil dulu. Yaap, di taman dekat sebuah universitas daerah atas. Itu tempat favorit kita dulu semasa SMA. Aku nggak akan lupa taman ini. Dimana Aku ketemu Bian pertama kalinya, saat itu Aku tersesat setelah berpencar dengan semua teman-temanku yang saat itu masih bermain petak umpet. Ya, karena sekolahku dekat dengan universitas tersebut kita malah terbiasa main di taman daerah universitas tersebut. Setelah itu, saat Aku bersembunyi Aku bertemu Bian yang saat itu sedang duduk di taman tersebut, tak sengaja saat dia bangkit dari duduknya Aku menabraknya dan menjatuhkan semua buku-bukunya. Setelah itu, kami saling bertatapan dan saling meminta maaf. Saat itulah aku kenal dengan Bian hingga sebesar ini kita masih bersama, walaupun kita bukan pasangan kekasih. Tetapi dimana ada Bian disitu ada Aku.
“Hey, kenapa dari tadi melamun sih?” tanya Bian yang membuyarkan lamunanku sejenak itu. “Eh, maaf gue melamun, engggakk nggak papa kok” kataku “Emm, mikirin dulu masa-masa kita disini ya?” goda Bian. “Apaan sih” “Hayo ngaku aja nggakpapa kok” goda Bian yang semakin menjengkelkanku “Biaannn, ah.” Kataku sambil menepuk bahu Bian. “Ciiieee yang lagi kangen sama teman lama.” “Iya gue kangen sama elo” kataku sewot. “Ah, masak?” “Iya, nggak percaya?” “Percaya deh” kata Bian sambil ketawa. Akupun larut dalam suasana yang amat sangat romantis. Tak disangka Bian berubah, ya berubah, dulu Bian orangnya kalem, nggak banyak omong. Mungkin akibat pergaulannya di negeri sebrang kali, menuntut dia untuk bersosialisasi. Ya meskipun seperti itu, jujur Aku suka dengan Bian yang sekarang. Tapi tak disangka Bian mengatakat hal yang tak kuduga. “Gue suka sama elo” kata Bian sambil menatapku dalam. “Apa?” kataku kaget “Iya gue suka sama elo, gue serius, gue sayang sama elo, gue nggak mau jauh dari elo.” “Hhhaahh?” Aku nggak bisa berkata apa-apa saat Bian menyatakan perasaannya sama Aku. Aku binging plus deg-degan. Tapi melihat Bian begitu yakin bahwa Bian benar-benar suka sama Aku. Aku jadi nggak ada keraguan buat menerima dia sebagai pacarku. Apa salahnya pacaran dengan teman sendiri.
Tak lama kemudian setelah seharian pergi dengan Bian. Membuatku merasa senang. Dan saat Dina main kerumahpun tak segan Aku menceritakannya. “Gue jadian sama Bian.” Kataku kegirangan. “Loe serius ya?” “Iya memangnya wajah gue nggak meyakinkan apa?” “Emm oke oke. Terus gimana dengan pangeran Edo loe itu?” “Ya, gue kan cuma ketemu dia sekali, mungkin dia kalau ketemu gue lagi dia nggak inget gue” “Emm, iya sih. Lagian loe ma dia kan nggak begitu kenal” “Yuuppss bener, nggak salah dong gue pacaran sama Bian” “Heeemm, iya deh gue dukung” kata Dina sambil merebahkan tubuhnya dan bersiap tidur dikamarku.
Ya, walaupun Bian akan kembali lagi ke ausy, Aku nggak masalah untuk berhubungan dengannya melalui media elektronik. Walaupun sekarang Aku ma Bian LDRan, tapi Aku seneng, Aku percaya Bian bakal balik buat Aku. Seberapa lama Aku bakal menunggu kamu sampai kamu menetap di Semarang, Bian.
No comments:
Post a Comment